Selalu seperti itu.
Kala musim hujan datang, aspal jalanan langsung menjadi rapuh, dan membentuk kawah-kawah beraneka diameter dan kedalaman. Para pengguna jalan harus mencurahkan konsentrasi lebih besar saat menyusuri jalanan yang sudah berubah menjadi layaknya sungai kering.
Bisa tidak ya, negara tropis menggunakan aspal kualitas super yang dapat tahan dari kelapukan akibat curahan air hujan? Hhh, memikirkannya saja sudah pesimis duluan. Saya tidak perlu menjelaskan alasan rasa pesimistis ini. Yang jelas, jika kita membicarakan apa-apa yang berhubungan dengan infrastruktur publik di negara kita ini, hanya akan berujung pada kemirisan dan kesedihan. Memang tidak semua infrastruktur seperti itu, tapi SEBAGIAN BESAR.
Ke mana... ke mana... ke mana...
Ke mana ya kira-kira anggaran untuk perbaikan infrastruktur publik, terutama infrastruktur publik yang telah dijamin undang-undang? Setiap warga berhak mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak. Apakah anggaran itu lari ke infrastruktur yang tidak penting-penting amat--jika dibanding infrastruktur dasar lainnya? Atau lari ke mana? Ke mana sih? Ke mana? Ke manaaaaaa? Adakah yang TEGA memberi tahu jawabannya???
haebaragi, 14 November 2011
Blog dengan free theme, berisi info-info bebas yang menarik untuk dibaca dan dinikmati Just enjoy here :)
Senin, 14 November 2011
Kamis, 10 November 2011
Siapkah Indonesia?
Apakah Indonesia sudah siap? Menghadapi tantangan global yang kecepatannya bak kecepatan cahaya?
Menjadi tuan rumah SEA Games tahun ini (2011) merupakan sebuah kehormatan, tetapi kalau kehormatan itu tidak ditanggapi dengan baik--sebaik kepercayaan yang ditumpukan pada negara kita tercinta ini--maka kehormatan itu hanya akan membuat kesedihan, atau mungkin rasa iba dan malu?
Ya, rasa iba terlintas ketika melihat infrastruktur untuk beberapa lomba ternyata belum rampung, bahkan saat lomba itu seharusnya dilaksanakan, sampai harus mengadakan Technical Meeting di gudang (lihat: http://www.tempointeraktif.com/hg/fokus/2011/11/09/fks,20111109-2157,id.html).
Lalu, kondisi jalan raya di Jakarta yang tidak layak karena proyek gorong-gorong yang belum selesai--semakin memantapkan julukan raja macet--padahal banyak orang-orang dari negara lain yang akan berkunjung ke Indonesia. Janjinya akan segera dirampungkan, tapi kok belum juga? Saya, tidak paham dengan proses pencairan dana dan penggunaannya untuk proyek-proyek semacam itu. Tapi benarkah bahwa ketidaklayakan yang muncul itu terjadi karena kurangnya dana untuk proyek? Atau yang benar, kurangnya dana yang lolos dari tangan-tangan nakal orang "pintar"? Wallahua'lam.
Yang jelas, saya masih sangat belum yakin dengan jawaban atas pertanyaan ini: siapkah Indonesia?
Saya takut jawabannya bukan ya. Ayolah pemerintah, melalui ini saya ingin menyampaikan bahwa membangun gedung pemerintahan dan memberi tunjangan ipad, cincin berlian, atau apalah untuk pejabat masih jauh lebih tidak penting dari membangun sekolah-sekolah yang roboh, fasilitas bidan desa, puskesmas, posyandu, mencukupi gizi rakyat miskin, dan sederet PR besar lainnya.
Semoga Indonesia maju jaya. Indonesia bisa.
Haebaragi, Nov 10, 2011 (di Hari Pahlawan yang sedih)
Menjadi tuan rumah SEA Games tahun ini (2011) merupakan sebuah kehormatan, tetapi kalau kehormatan itu tidak ditanggapi dengan baik--sebaik kepercayaan yang ditumpukan pada negara kita tercinta ini--maka kehormatan itu hanya akan membuat kesedihan, atau mungkin rasa iba dan malu?
Ya, rasa iba terlintas ketika melihat infrastruktur untuk beberapa lomba ternyata belum rampung, bahkan saat lomba itu seharusnya dilaksanakan, sampai harus mengadakan Technical Meeting di gudang (lihat: http://www.tempointeraktif.com/hg/fokus/2011/11/09/fks,20111109-2157,id.html).
Lalu, kondisi jalan raya di Jakarta yang tidak layak karena proyek gorong-gorong yang belum selesai--semakin memantapkan julukan raja macet--padahal banyak orang-orang dari negara lain yang akan berkunjung ke Indonesia. Janjinya akan segera dirampungkan, tapi kok belum juga? Saya, tidak paham dengan proses pencairan dana dan penggunaannya untuk proyek-proyek semacam itu. Tapi benarkah bahwa ketidaklayakan yang muncul itu terjadi karena kurangnya dana untuk proyek? Atau yang benar, kurangnya dana yang lolos dari tangan-tangan nakal orang "pintar"? Wallahua'lam.
Yang jelas, saya masih sangat belum yakin dengan jawaban atas pertanyaan ini: siapkah Indonesia?
Saya takut jawabannya bukan ya. Ayolah pemerintah, melalui ini saya ingin menyampaikan bahwa membangun gedung pemerintahan dan memberi tunjangan ipad, cincin berlian, atau apalah untuk pejabat masih jauh lebih tidak penting dari membangun sekolah-sekolah yang roboh, fasilitas bidan desa, puskesmas, posyandu, mencukupi gizi rakyat miskin, dan sederet PR besar lainnya.
Semoga Indonesia maju jaya. Indonesia bisa.
Haebaragi, Nov 10, 2011 (di Hari Pahlawan yang sedih)
Rabu, 09 November 2011
Beasiswa ke Korea
The Korean Government Scholarship Program is designed to provide higher education in Korea for international students in order to promote international exchange in education and mutual friendship between the participating countries.
Scholarship value/inclusions:
Scholarship Website http://www.niied.go.kr
and visit the Korean Embassy (Consulate) website in your country
Scholarship value/inclusions:
- Airfare: A round-trip economy class ticket
- Monthly Allowance: 900,000 won(KRW) per month
- Research Allowance: 210,000 won for students in human and social sciences; 240,000 won for students in natural and mechanic sciences per semester
- Relocation (Settlement) Allowance: 200,000 won upon arrival
- Language Training Fee : The full costs up to 1 year
- Tuition: All admission fees are waived by the host institution. The full tuition is paid by NIIED.
- Dissertation Printing Costs: 500,000 ~ 800,000 won for the costs related to a printing dissertation
- Medical Insurance: 15,000 won per month(limited insurance coverage) will be provided to the university for students.
- Special fund for students proficient in Korean language (TOPIK level 5 or 6): 100,000 won per month(Commencing from the main program)
- Both applicant and his/her parents must be citizens of the foreign country.
- Applicants cannot have Korean citizenship.
- Applicants should be in good health, both mentally and physically, to stay in Korea for a long period of time.
- Should be under 40 years of age as of 1 September 2011.
- Hold a Bachelor’s or Master’s degree as of 1 September 2011.
- Applicants who are enrolling or have already enrolled in the same academic program in Korea as the one they are applying for will not be admitted.
- For Master’s program (or Integrated Master’s & Doctoral program): students who hold a Bachelor’s degree or a diploma that is equivalent to or higher than Bachelor’s degree
- For Doctoral program: students who hold a Master’s degree or a diploma that is equivalent to or higher than Master’s degree.
- Applicants who are expecting the adequate diploma should present their diploma by September 1, 2010 before entry.
- Should have a grade point average (G.P.A.) at least 2.64 on a 4.0 scale, 2.80 on a 4. 3 scale, 2.91 on a 4.5 scale or grades/marks/score of 80% or higher from the previous attended institution.
- If the grade is difficult to convert to percentage, official explanatory documents from the attended university are required.
Scholarship Website http://www.niied.go.kr
and visit the Korean Embassy (Consulate) website in your country
Macam-macam Gaya Kepemimpinan
1. Birokratis
Ini adalah satu gaya yang ditandai dengan keterikatan yang terus-menerus kepada aturan-aturan organisasi. Gaya ini menganggap bahwa kesulitan-kesulitan akan dapat diatasi bila setiap orang mematuhi peraturan. Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan prosedur-prosedur baku. Pemimpinnya adalah seorang diplomat dan tahu bagaimana memakai sebagian besar peraturan untuk membuat orang-orang melaksanakan tugasnya. Kompromi merupakan suatu jalan hidup karena untuk membuat satu keputusan diterima oleh mayoritas, orang sering harus mengalah kepada yang lain.
2. Permisif
Di sini keinginannya adalah membuat setiap orang dalam kelompok tersebut puas. Membuat orang-orang tetap senang adalah aturan mainnya. Gaya ini menganggap bahwa bila orang-orang merasa puas dengan diri mereka sendiri dan orang lain, maka organisasi tersebut akan berfungsi dan dengan demikian, pekerjaan akan bisa diselesaikan. Koordinasi sering dikorbankan dalam gaya ini.
3. Laissez-faire
Gaya ini membiarkan segala sesuatunya berjalan dengan sendirinya. Pemimpin hanya melaksanakan fungsi pemeliharaan saja. Misalnya, seorang pendeta mungkin hanya namanya saja yang tercantum sebagai ketua dari organisasi tersebut dan hanya menangani urusan khotbah, sementara yang lainnya mengerjakan segala pernik mengenai bagaimana organisasi tersebut harus beroperasi. Gaya ini kadang-kadang dipakai oleh pemimpin yang sering bepergian atau yang hanya bertugas sementara.
4. Efektif
Gaya kepemimpinan ini terciri pada keterampilan manajerial dalam pelaksanaan pekerjaan bersama atau melalui orang lain.
5. Direktif
Pemimpin yang direktif pada umumnya membuat keputusan-keputusan penting dan banyak terlibat dalam pelaksanaannya. Semua kegiatan terpusat pada pemimimpin. Dan sedikit sekali kebebasan bagi bawahan untuk berkreasi. Pada dasarnya gaya direktif adalah gaya otoriter.
6. Delegasi
Gaya kepemimpinan ini disebut juga gaya Free-rein. Yaitu gaya yang mendorong kemampuan staf untuk ambil inisiatif.Kurang interaksi dan control yang dilakukan oleh pemimpin, sehingga gaya ini hanya bisa berjalan apabila staf memperlihatkan tingkst kompetensi dan tanggungjawab yang tinggi.
7. Demokratis
Gaya kepemimpinan demokratis yaitu gaya kepemimpinan yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya. Pada kepemimpinan demokrasi, anggota memiliki peranan yang lebih besar. Pada kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan sasaran yang ingin dicapai saja, tentang cara untuk mencapai sasaran tersebut, anggota yang menentukan. Selain itu, anggota juga diberi keleluasaan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kepemimpinan demokrasi cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi tinggi dengan komitmen yang bervariasi
8. Bebas
Pemimpin dalam gaya kepemimpinan ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.Gaya kepemimpinan demokratis kendali bebas merupakan model kepemimpinan yang paling dinamis. Pada gaya kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan sasaran utama yang ingin dicapai saja. Tiap divisi atau seksi diberi kepercayaan penuh untuk menentukan sasaran minor, cara untuk mencapai sasaran, dan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya sendiri-sendiri. Dengan demikian, pemimpin hanya berperan sebagai pemantau saja. Sementara itu, kepemimpinan kendali bebas cocok untuk angggota yang memiliki kompetensi dan komitmen tinggi. Namun dewasa ini, banyak para ahli yang menawarkan gaya kepemimpinan yang dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan, dimulai dari yang paling klasik yaitu teori sifat sampai kepada teori situasional.
9. Instruktif
Gaya kepemimpinan ini ditandai dengan adanya komunikasi satu arah. Pemimpin membatasi peran bawahan dan menunjukkan kepada bawahan apa, kapan, di mana, bagaimana sesuatu tugas harus dilaksanakan. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan semata-mata menjadi wewenang pemimpin, yang kemudian menjadi wewenang pemimpin, yang kemudian diumumkan kepada para bawahan. Pelaksanaan pekerjaan diawasi secara ketat oleh pemimpin.
10. Militeristis
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
a. Dalam menggerakkan bawahan untuk yang telah ditetapkan, perintah mencapai tujuan digunakan sebagai alat utama.
b. Dalam menggerakkan bawahan sangat suka menggunakan pangkat dan jabatannya.
c. Sonang kepada formalitas yang berlebihan
d. Menuntut disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan
e. Tidak mau menerima kritik dari bawahan
f. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
11. Fathernalistis
Gaya kepemimpinan ini mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat fathernal atau kebapakan. Pemimpin seperti ini menggunakan pengaruh yang sifat kebapakan dalam menggerakkan bawahan mencapai tujuan. Kadang-kadang pendekatan yang dilakukan sifat terlalu sentimentil.
12. Karismatik
Gaya kepemimpinan seperti ini mempunyai daya tarik yang amat besar, dan karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar. Kebanyakan para pengikut menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin seperti ini, pengetahuan tentang faktor penyebab karena kurangnya seorang pemimpin yang karismatis, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers), perlu dikemukakan bahwa kekayaan, umur, kesehatan profil pendidikan dan sebagainya tidak dapat digunakan sebagai kriteria gaya pemimpin karismatis.
13. Pribadi
Gaya kepemimpinan pribadi yaitu dilaksanakan melalui hubungan pribadi. Petunjuk-petunjuk dan dorongan atau motivasi diberikan secara pribadi oleh pihak pimpinan. Tipe ini sering dianut oleh perusahaan-perusahaan kecil karena kompleksitas tenaga kerja maupun kegiatannya amatlah kecil, sehingga pelaksanaannya mudah dan sangat efektif untuk dilaksanakan.
14. Non pribadi
Segala peraturan dan kebijakan-kebijakan, kepercayaan-kepercayaan, serta rencana-rencana yang berlaku pada perusahaan, disampaikan kepada bawahan-bawahannya melalui media non pribadi. Pada gaya ini sangatlah berperan program pendelegasian wewenang.
15. Situasional
Ketika dibutuhkan sebuah keputusan, seorang pemimpin yang efektif tidak hanya jatuh pada satu gaya kepemimpinan, seperti menggunakan gaya transaksional atau transformasional. Pada prakteknya, ini merupakan hal yang tidak mudah. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan situasional yaitu motivasi dan kapabilitas pengikut. Persepsi pemimpin pada situasi dan pengikutnya akan berdampak pada apa yang mereka lakukan daripada kenyataan situasi yang ada. Persepsi pemimpin pada dirinya dan faktor lain seperti stres dan mood juga akan merubah perilaku pemimpin.
16. Transaksional
Pemimpin dengan gaya transaksional bekerja dengan menciptakan struktur yang jelas sehingga jelas apa saja kebutuhan dari bawahannya, dan hadiah apa yang akan mereka dapatkan jika menuruti perintah pemimpin. Hukuman tidak selalu disebutkan, tetapi hal tersebut diketahui dengan baik dan sistem formal kedisiplinan diterapkan.
Ketika pemimpin dengan gaya transaksiomal mengalokasikan pekerjaan kepada bawahannya, mereka memiliki rasa tanggung jawab terhadap hal tersebut, tidak peduli apakah mereka memiliki sumber daya atau kemampuan untuk menyelesaikannya. Ketika terjadi kesalahan, kemudian bawahan secara pribadi harus menyadari kesalahannya dan mendapat hukuman atas kesalahannya tersebut, seperti ketika ia mendapat hadiah jika berhasil.
17. Transformasional
Bekerja di bawah pemimpin dengan gaya transformasional dapat menjadi pengalaman yang menakjubkan dan menyenangkan. Pemimpin dengan gaya ini memberikan semangat dan energi pada semua hal. Mereka peduli terhadap bawahan dan mengharapkan bawahannya tersebut dapat berhasil. Pemimpin dengan gaya ini pada awalnya mengembangkan visi, menjual visi tersebut kepada bawahannya, menemukan langkah ke depan, dan selalu menyertai bawahan dalam setiap proses untuk melihat, mendengar, dan memberikan semangat pada mereka.
18. Tenang (quiet)
Pendekatan untuk deskripsi mengenai pemimpin dengan gaya tenang (quiet) merupakan antitesis dari gaya kepemimpinan klasik yaitu karismatik (dan juga transformasional) pada dasar keberhasilan mereka yang tidak pada ego dan usaha dari karakternya, tetapi pada pemikiran dan tindakannya. Meskipun pemimpin dengan gaya ini secara kuat berfokus pada tugas, mereka tidak berperilaku menggertak, tidak baik hati, bahkan dapat melakukan persuasi pada bawahan melalui argumen yang rasional.
19. Pelayan
Pemimpin bergaya pelayan bersifat melayani bawahannya daripada dilayani oleh bawahannya. Bentuk pelayanan tersebut berupa pertolongan untuk mencapai tujuan dan meningkatkan kemampuan.
20. Visioner
Gaya ini lebih cocok digunakan ketika sebuah organisasi membutuhkan arah baru. Tujuannya untuk menggerakkan pengikut pada sebuah mimpi baru. “Pemimpin yang visioner menekankan pada pengikutnya di mana mereka berada sekarang, bukan akan berada di mana mereka di kemudian hari—menjadikan pengikutnya bebas berinovasi, bereksperimen, dan memperhitungkan berbagai risiko” tulis Mr. Goleman dan asisten penulisnya.
21. Pelatih
Gaya “satu per satu” ini fokus pada pengembangan individu, menunjukkan pada pengikut bagaimana meningkatkan performa mereka, dan membantu mencapai tujuan mereka untuk tujuan organisasi.
22. Afiliatif
Gaya ini menekankan pada pentingnya kerja tim, dan menciptakan harmoni dalam suatu kelompok dengan mengikatkan pengikut satu dengan pengikut yang lain. Mr. Goleman berpendapat, “ketika mencoba meningkatkan harmoni tim, meningkatkan semangat juang, meningkatkan komunikasi, atau memperbaiki kesalahan, percayalah pada satu organisasi”.
23. Penentu model
Pada gaya ini, pemimpin menyusun standar tinggi untuk performa kelompok. Dia bersifat obsesif dalam melakukan berbagai hal agar hasilnya baik dan cepat terselesaikan, dan meminta semua orang juga berlaku seperti itu. Tetapi Mr. Goleman memperingatkan bahwa gaya ini seharusnya digunakan secara bersama-sama dengan gaya lain, karena ia dapat menurunkan semangat juang dan membuat anggota kelompok merasa seolah-olah mereka gagal.
24. Ideologikal
Gaya ini memiliki ciri adanya penyetiran nilai, memiliki hasrat untuk isu kunci, dan fokus pada tema penting.
25. Changed oriented
Pemimpin dengan gaya ini senang mencoba berbagai hal baru, mengenalkan perubahan, mencari outcome tak terduga, serta menciptakan kesempatan dan pengalaman baru.
26. Action oriented
Pemimpin dengan gaya ini giat mengambil tindakan, memproduksi hasil, memimpin dari depan, serta memberi contoh pada anggota kelompok.
27. Goal oriented
Pemimpin dengan gaya ini senang mengobservasi, mendengar, mengklarifikasikan tujuan, menetapkan ekspektasi yang realistis, serta membuat tujuan benar-benar jelas.
28. Eksekutif
Pemimpin dengan gaya ini senang mengorganisasikan, membuat rencana-rencana, membuat tujuan-tujuan yang terukur, mengkoordinasikan kerja anggota kelompok, dan mengatur sumber daya yang ada.
29. Teoritis
Pemimpin dengan gaya ini senang menganalisis, menggunakan model, menghasilkan eksplanasi, membandingkan dengan situasi lain, dan mengajak pada debat yang bersifat intelektual.
30. Emergent
Gaya ini digunakan ketika kelompok tidak secara otomatis menerima seorang “bos” baru sebagai pemimpin.
31. Strategik
Gaya ini dipraktekkan oleh badan militer seperti US Army, US Air Force, dan berbagai institusi besar lainnya. Gaya ini menekan pesaing alami dari operasi sebuah organisasi dan memungkinkan kelompok untuk melakukan mengakali dan memperdaya dalam sebuah kompetisi.
32. Fasilitatif
Ini merupakan gaya khusus di mana seseorang yang memimpin sebuah rapat, juga dapat bekerja sebagai bawahan. Dibanding mengarahkan, pemimpin lebih sering melakukan pola komunikasi tidak langsung untuk membantu kelompok mencapai tujuan.
33. Cross cultural
Gaya ini diperlukan ketika anggota kelompom merupakan orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda, karena tidak semua individu dapat beradaptasi pada gaya kepemimpinan tertentu ketika mereka memiliki budaya yang berbeda. Sebagai contoh, gaya kepemimpina orang Amerika sangat berbeda dengan gaya kepemimpinan orang Asia.
34. Bureucratic
Gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Manajemen berpedoman pada buku
b. Semua dilakukan menurut prosedur atau kebijakan
c. Jika tidak tercakup dalam buku, mengacu pada poin kedua di atas
d. Petugas kebijakan bukan pemimpin
e. Sangat menekankan pada peraturan
35. Kreatif
Pemimpin dengan gaya kreatif memiliki kemampuan untuk menginspirasi pengikutnya secara unik, untuk bersiap-siap terhadap perubahan situasi, serta untuk menyatukan berbagai inovasi dan solusi.
36. Korektif
Memberdayakan anggota kelompok untuk memfasilitasi kolaborasi dan sinergisme, bekerja dengan dan melalui orang lain, bukannya mengikat mereka dalam otoriterianisme.
37. Intelejensi
Pemimpin dengan gaya ini mengarahkan kelompok ke masa depan dengan mengkombinasikan ambiguitas dan masalah reframing sebagai kesempatan.
38. Multikultural
Pemimpin dengan gaya ini membangun efektivitas tim dan individu serta mengarahkan inovasi dalam perbedaan multikultural pada anggota kelompoknya.
39. Pedagogical
Gaya kepemimpinan ini menggunakan paradigma yang bergeser dari “orientasi berpusat pada pemimpin” menjadi sebuah sistem organisasi yang interaktif dan konektif, menggunakan gaya pembelajaran demokratis dan komunikatif.
40. Bridging
Pemimpin dalam gaya kepemimpinan ini membangun sinergi dan menguatkan perilaku dan motivasi melalui komunikasi untuk menciptakan keyakinan dan kepercayaan diri.
41. Purposif
Dalam gaya kepemimpinan ini, pemimpin dan anggota kelompok berbagi atau melakukan sharing mengenai tujuan umum untuk mengembangkan atau membentuk arah, otoritas, dan komitmen dalam menjalankan proyek.
Ini adalah satu gaya yang ditandai dengan keterikatan yang terus-menerus kepada aturan-aturan organisasi. Gaya ini menganggap bahwa kesulitan-kesulitan akan dapat diatasi bila setiap orang mematuhi peraturan. Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan prosedur-prosedur baku. Pemimpinnya adalah seorang diplomat dan tahu bagaimana memakai sebagian besar peraturan untuk membuat orang-orang melaksanakan tugasnya. Kompromi merupakan suatu jalan hidup karena untuk membuat satu keputusan diterima oleh mayoritas, orang sering harus mengalah kepada yang lain.
2. Permisif
Di sini keinginannya adalah membuat setiap orang dalam kelompok tersebut puas. Membuat orang-orang tetap senang adalah aturan mainnya. Gaya ini menganggap bahwa bila orang-orang merasa puas dengan diri mereka sendiri dan orang lain, maka organisasi tersebut akan berfungsi dan dengan demikian, pekerjaan akan bisa diselesaikan. Koordinasi sering dikorbankan dalam gaya ini.
3. Laissez-faire
Gaya ini membiarkan segala sesuatunya berjalan dengan sendirinya. Pemimpin hanya melaksanakan fungsi pemeliharaan saja. Misalnya, seorang pendeta mungkin hanya namanya saja yang tercantum sebagai ketua dari organisasi tersebut dan hanya menangani urusan khotbah, sementara yang lainnya mengerjakan segala pernik mengenai bagaimana organisasi tersebut harus beroperasi. Gaya ini kadang-kadang dipakai oleh pemimpin yang sering bepergian atau yang hanya bertugas sementara.
4. Efektif
Gaya kepemimpinan ini terciri pada keterampilan manajerial dalam pelaksanaan pekerjaan bersama atau melalui orang lain.
5. Direktif
Pemimpin yang direktif pada umumnya membuat keputusan-keputusan penting dan banyak terlibat dalam pelaksanaannya. Semua kegiatan terpusat pada pemimimpin. Dan sedikit sekali kebebasan bagi bawahan untuk berkreasi. Pada dasarnya gaya direktif adalah gaya otoriter.
6. Delegasi
Gaya kepemimpinan ini disebut juga gaya Free-rein. Yaitu gaya yang mendorong kemampuan staf untuk ambil inisiatif.Kurang interaksi dan control yang dilakukan oleh pemimpin, sehingga gaya ini hanya bisa berjalan apabila staf memperlihatkan tingkst kompetensi dan tanggungjawab yang tinggi.
7. Demokratis
Gaya kepemimpinan demokratis yaitu gaya kepemimpinan yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya. Pada kepemimpinan demokrasi, anggota memiliki peranan yang lebih besar. Pada kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan sasaran yang ingin dicapai saja, tentang cara untuk mencapai sasaran tersebut, anggota yang menentukan. Selain itu, anggota juga diberi keleluasaan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kepemimpinan demokrasi cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi tinggi dengan komitmen yang bervariasi
8. Bebas
Pemimpin dalam gaya kepemimpinan ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.Gaya kepemimpinan demokratis kendali bebas merupakan model kepemimpinan yang paling dinamis. Pada gaya kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan sasaran utama yang ingin dicapai saja. Tiap divisi atau seksi diberi kepercayaan penuh untuk menentukan sasaran minor, cara untuk mencapai sasaran, dan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya sendiri-sendiri. Dengan demikian, pemimpin hanya berperan sebagai pemantau saja. Sementara itu, kepemimpinan kendali bebas cocok untuk angggota yang memiliki kompetensi dan komitmen tinggi. Namun dewasa ini, banyak para ahli yang menawarkan gaya kepemimpinan yang dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan, dimulai dari yang paling klasik yaitu teori sifat sampai kepada teori situasional.
9. Instruktif
Gaya kepemimpinan ini ditandai dengan adanya komunikasi satu arah. Pemimpin membatasi peran bawahan dan menunjukkan kepada bawahan apa, kapan, di mana, bagaimana sesuatu tugas harus dilaksanakan. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan semata-mata menjadi wewenang pemimpin, yang kemudian menjadi wewenang pemimpin, yang kemudian diumumkan kepada para bawahan. Pelaksanaan pekerjaan diawasi secara ketat oleh pemimpin.
10. Militeristis
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
a. Dalam menggerakkan bawahan untuk yang telah ditetapkan, perintah mencapai tujuan digunakan sebagai alat utama.
b. Dalam menggerakkan bawahan sangat suka menggunakan pangkat dan jabatannya.
c. Sonang kepada formalitas yang berlebihan
d. Menuntut disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan
e. Tidak mau menerima kritik dari bawahan
f. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
11. Fathernalistis
Gaya kepemimpinan ini mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat fathernal atau kebapakan. Pemimpin seperti ini menggunakan pengaruh yang sifat kebapakan dalam menggerakkan bawahan mencapai tujuan. Kadang-kadang pendekatan yang dilakukan sifat terlalu sentimentil.
12. Karismatik
Gaya kepemimpinan seperti ini mempunyai daya tarik yang amat besar, dan karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar. Kebanyakan para pengikut menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin seperti ini, pengetahuan tentang faktor penyebab karena kurangnya seorang pemimpin yang karismatis, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers), perlu dikemukakan bahwa kekayaan, umur, kesehatan profil pendidikan dan sebagainya tidak dapat digunakan sebagai kriteria gaya pemimpin karismatis.
13. Pribadi
Gaya kepemimpinan pribadi yaitu dilaksanakan melalui hubungan pribadi. Petunjuk-petunjuk dan dorongan atau motivasi diberikan secara pribadi oleh pihak pimpinan. Tipe ini sering dianut oleh perusahaan-perusahaan kecil karena kompleksitas tenaga kerja maupun kegiatannya amatlah kecil, sehingga pelaksanaannya mudah dan sangat efektif untuk dilaksanakan.
14. Non pribadi
Segala peraturan dan kebijakan-kebijakan, kepercayaan-kepercayaan, serta rencana-rencana yang berlaku pada perusahaan, disampaikan kepada bawahan-bawahannya melalui media non pribadi. Pada gaya ini sangatlah berperan program pendelegasian wewenang.
15. Situasional
Ketika dibutuhkan sebuah keputusan, seorang pemimpin yang efektif tidak hanya jatuh pada satu gaya kepemimpinan, seperti menggunakan gaya transaksional atau transformasional. Pada prakteknya, ini merupakan hal yang tidak mudah. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan situasional yaitu motivasi dan kapabilitas pengikut. Persepsi pemimpin pada situasi dan pengikutnya akan berdampak pada apa yang mereka lakukan daripada kenyataan situasi yang ada. Persepsi pemimpin pada dirinya dan faktor lain seperti stres dan mood juga akan merubah perilaku pemimpin.
16. Transaksional
Pemimpin dengan gaya transaksional bekerja dengan menciptakan struktur yang jelas sehingga jelas apa saja kebutuhan dari bawahannya, dan hadiah apa yang akan mereka dapatkan jika menuruti perintah pemimpin. Hukuman tidak selalu disebutkan, tetapi hal tersebut diketahui dengan baik dan sistem formal kedisiplinan diterapkan.
Ketika pemimpin dengan gaya transaksiomal mengalokasikan pekerjaan kepada bawahannya, mereka memiliki rasa tanggung jawab terhadap hal tersebut, tidak peduli apakah mereka memiliki sumber daya atau kemampuan untuk menyelesaikannya. Ketika terjadi kesalahan, kemudian bawahan secara pribadi harus menyadari kesalahannya dan mendapat hukuman atas kesalahannya tersebut, seperti ketika ia mendapat hadiah jika berhasil.
17. Transformasional
Bekerja di bawah pemimpin dengan gaya transformasional dapat menjadi pengalaman yang menakjubkan dan menyenangkan. Pemimpin dengan gaya ini memberikan semangat dan energi pada semua hal. Mereka peduli terhadap bawahan dan mengharapkan bawahannya tersebut dapat berhasil. Pemimpin dengan gaya ini pada awalnya mengembangkan visi, menjual visi tersebut kepada bawahannya, menemukan langkah ke depan, dan selalu menyertai bawahan dalam setiap proses untuk melihat, mendengar, dan memberikan semangat pada mereka.
18. Tenang (quiet)
Pendekatan untuk deskripsi mengenai pemimpin dengan gaya tenang (quiet) merupakan antitesis dari gaya kepemimpinan klasik yaitu karismatik (dan juga transformasional) pada dasar keberhasilan mereka yang tidak pada ego dan usaha dari karakternya, tetapi pada pemikiran dan tindakannya. Meskipun pemimpin dengan gaya ini secara kuat berfokus pada tugas, mereka tidak berperilaku menggertak, tidak baik hati, bahkan dapat melakukan persuasi pada bawahan melalui argumen yang rasional.
19. Pelayan
Pemimpin bergaya pelayan bersifat melayani bawahannya daripada dilayani oleh bawahannya. Bentuk pelayanan tersebut berupa pertolongan untuk mencapai tujuan dan meningkatkan kemampuan.
20. Visioner
Gaya ini lebih cocok digunakan ketika sebuah organisasi membutuhkan arah baru. Tujuannya untuk menggerakkan pengikut pada sebuah mimpi baru. “Pemimpin yang visioner menekankan pada pengikutnya di mana mereka berada sekarang, bukan akan berada di mana mereka di kemudian hari—menjadikan pengikutnya bebas berinovasi, bereksperimen, dan memperhitungkan berbagai risiko” tulis Mr. Goleman dan asisten penulisnya.
21. Pelatih
Gaya “satu per satu” ini fokus pada pengembangan individu, menunjukkan pada pengikut bagaimana meningkatkan performa mereka, dan membantu mencapai tujuan mereka untuk tujuan organisasi.
22. Afiliatif
Gaya ini menekankan pada pentingnya kerja tim, dan menciptakan harmoni dalam suatu kelompok dengan mengikatkan pengikut satu dengan pengikut yang lain. Mr. Goleman berpendapat, “ketika mencoba meningkatkan harmoni tim, meningkatkan semangat juang, meningkatkan komunikasi, atau memperbaiki kesalahan, percayalah pada satu organisasi”.
23. Penentu model
Pada gaya ini, pemimpin menyusun standar tinggi untuk performa kelompok. Dia bersifat obsesif dalam melakukan berbagai hal agar hasilnya baik dan cepat terselesaikan, dan meminta semua orang juga berlaku seperti itu. Tetapi Mr. Goleman memperingatkan bahwa gaya ini seharusnya digunakan secara bersama-sama dengan gaya lain, karena ia dapat menurunkan semangat juang dan membuat anggota kelompok merasa seolah-olah mereka gagal.
24. Ideologikal
Gaya ini memiliki ciri adanya penyetiran nilai, memiliki hasrat untuk isu kunci, dan fokus pada tema penting.
25. Changed oriented
Pemimpin dengan gaya ini senang mencoba berbagai hal baru, mengenalkan perubahan, mencari outcome tak terduga, serta menciptakan kesempatan dan pengalaman baru.
26. Action oriented
Pemimpin dengan gaya ini giat mengambil tindakan, memproduksi hasil, memimpin dari depan, serta memberi contoh pada anggota kelompok.
27. Goal oriented
Pemimpin dengan gaya ini senang mengobservasi, mendengar, mengklarifikasikan tujuan, menetapkan ekspektasi yang realistis, serta membuat tujuan benar-benar jelas.
28. Eksekutif
Pemimpin dengan gaya ini senang mengorganisasikan, membuat rencana-rencana, membuat tujuan-tujuan yang terukur, mengkoordinasikan kerja anggota kelompok, dan mengatur sumber daya yang ada.
29. Teoritis
Pemimpin dengan gaya ini senang menganalisis, menggunakan model, menghasilkan eksplanasi, membandingkan dengan situasi lain, dan mengajak pada debat yang bersifat intelektual.
30. Emergent
Gaya ini digunakan ketika kelompok tidak secara otomatis menerima seorang “bos” baru sebagai pemimpin.
31. Strategik
Gaya ini dipraktekkan oleh badan militer seperti US Army, US Air Force, dan berbagai institusi besar lainnya. Gaya ini menekan pesaing alami dari operasi sebuah organisasi dan memungkinkan kelompok untuk melakukan mengakali dan memperdaya dalam sebuah kompetisi.
32. Fasilitatif
Ini merupakan gaya khusus di mana seseorang yang memimpin sebuah rapat, juga dapat bekerja sebagai bawahan. Dibanding mengarahkan, pemimpin lebih sering melakukan pola komunikasi tidak langsung untuk membantu kelompok mencapai tujuan.
33. Cross cultural
Gaya ini diperlukan ketika anggota kelompom merupakan orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda, karena tidak semua individu dapat beradaptasi pada gaya kepemimpinan tertentu ketika mereka memiliki budaya yang berbeda. Sebagai contoh, gaya kepemimpina orang Amerika sangat berbeda dengan gaya kepemimpinan orang Asia.
34. Bureucratic
Gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Manajemen berpedoman pada buku
b. Semua dilakukan menurut prosedur atau kebijakan
c. Jika tidak tercakup dalam buku, mengacu pada poin kedua di atas
d. Petugas kebijakan bukan pemimpin
e. Sangat menekankan pada peraturan
35. Kreatif
Pemimpin dengan gaya kreatif memiliki kemampuan untuk menginspirasi pengikutnya secara unik, untuk bersiap-siap terhadap perubahan situasi, serta untuk menyatukan berbagai inovasi dan solusi.
36. Korektif
Memberdayakan anggota kelompok untuk memfasilitasi kolaborasi dan sinergisme, bekerja dengan dan melalui orang lain, bukannya mengikat mereka dalam otoriterianisme.
37. Intelejensi
Pemimpin dengan gaya ini mengarahkan kelompok ke masa depan dengan mengkombinasikan ambiguitas dan masalah reframing sebagai kesempatan.
38. Multikultural
Pemimpin dengan gaya ini membangun efektivitas tim dan individu serta mengarahkan inovasi dalam perbedaan multikultural pada anggota kelompoknya.
39. Pedagogical
Gaya kepemimpinan ini menggunakan paradigma yang bergeser dari “orientasi berpusat pada pemimpin” menjadi sebuah sistem organisasi yang interaktif dan konektif, menggunakan gaya pembelajaran demokratis dan komunikatif.
40. Bridging
Pemimpin dalam gaya kepemimpinan ini membangun sinergi dan menguatkan perilaku dan motivasi melalui komunikasi untuk menciptakan keyakinan dan kepercayaan diri.
41. Purposif
Dalam gaya kepemimpinan ini, pemimpin dan anggota kelompok berbagi atau melakukan sharing mengenai tujuan umum untuk mengembangkan atau membentuk arah, otoritas, dan komitmen dalam menjalankan proyek.
Belajar dari Fenomena Hallyu
Korea pada abad 21 dapat dikatakan berhasil menyaingi Hollywood dan Bollywood dalam melebarkan sayap budayanya ke dunia internasional. Berbagai produk budaya Korea, mulai dari film, lagu, fashion, gaya hidup hingga produk-produk industri, menghiasi ranah kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
“Globalisasi budaya pop Korea atau yang lebih dikenal dengan Hallyu ini berhasil mempengaruhi kehidupan masyarakat dunia, terutama kaum muda dalam beberapa waktu terakhir,” kata Suray Agung Nugroho, M.A., Ketua Program Studi Bahasa Korea Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Selasa (25/1), dalam seminar “Contemporary Korea: Youthful Spirit”, yang digelar di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri.
Suray mengatakan Pemerintah Korea sangat tanggap dalam menangkap kenyataan tersebut. Pemerintah langsung turun tangan untuk mencanangkan gerakan menyukseskan ‘ekspor’ budaya Korea ke dunia luar. Bahkan, sejumlah perguruan tinggi di Korea telah membuka mata kuliah khusus tentang Hallyu. “Tak ketinggalan pula, berbagai studi akademik dilakukan di Korea dan universitas serta lembaga kajian tingkat dunia untuk menyelami fenomena dan pengaruh Hallyu saat ini,” tuturnya.
Menurut Suray, terdapat satu hal yang dapat dipetik dari fenomena Hallyu, yakni bersatunya masyarakat dan Pemerintah Korea dalam menanggapi suatu fenomena budaya yang terjadi di negerinya. Mereka juga proaktif dalam urusan menaikkan citra Korea di mata internasional. “Sebenarnya, kita bisa belajar dari fenomena yang terjadi di Korea tersebut," terangnya.
Dikatakan Suray bahwa sebenarnya Indonesia telah menunjukkan kesatuan gerakan antarrakyat dan pemerintah dalam menanggapi isu negeri ini di dunia internasional. Satu hal yang membuat tidak begitu terlihat hubungan masyarakat-pemerintah dalam mencitrakan dirinya ke dunia internasional adalah karena beragamnya masalah-masalah nasional yang akhirnya membuat fokus pemerintah dan rakyat terkaburkan,” jelasnya.
Sementara itu, Dr. Novi Kussuji Indrastuti, M.Hum., salah satu peneliti di Pusat Studi Korea UGM, menyebutkan kebudayaan Korea tergolong cukup menarik karena di tengah derasnya arus globalisasi, masyarakatnya tetap dapat mempertahankan kebudayaan yang dimiliki. Bahkan, budaya yang ada mampu memengaruhi gaya hidup anak muda di sebagian besar negara di dunia. (Humas UGM/Ika)
Langganan:
Postingan (Atom)
